Wednesday, June 17, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal
memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. ” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! “Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”
Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan
sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, … tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan sodara dan keluarga kita
Dikisahkan ada seorang tukang air memiliki dua tempayan keramik ( gentong ) besar yang difungsikan untuk mengangkut air dari sumber mata air ke rumah majikannya. Masing-masing tempayan bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa dengan cara menyilang pada pundak si tukang air. Satu dari tempayan itu retak dan bocor, sedangkan tempayan yang satunya lagi bagus dan tidak bocor.
Setiap kali si tukang air mengambil air dari sumbernya, kedua tempayan itu diisi penuh dan dipikul ke penampungan air di rumah majikannya, namun tempayan yang retak itu selalu isinya tinggal setengah ketika hendak dituangkan kedalam bak air. Sedangkan tempayan yang bagus isinya masih penuh sesuai dengan waktu pengambilan air. Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya setiap kali mengangkut air. Tentu saja si tempayan yang bagus merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Berbeda dengan si tempayan retak merasa malu akan kekurangannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya bisa ia berikan.
Setelah dua tahun tertekan oleh masalah itu, tempayan retak mulai minder, apalagi sering dilecehkan oleh tempayan yang bagus. Tempayan retak merasa malu, lalu ia berkata kepada si tukang air, “aku sungguh malu pada diriku sendiri, dan aku ingin mohon maaf kepadamu”. “Kenapa?” tanya si tukang air. “Kenapa kamu merasa malu?”. Selama dua tahun ini, aku hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat kubawa. Karena kekuranganku selama ini, telah membuatmu rugi,” kata tempayan retak itu. Aku juga tidak mau menjadi bahan tertawaan sahabatku si tempayan yang bagus, ketidak sempurnaanku menjadi bahan celaan buat dia. Mulai besok aku mau berhenti mengangkut air, karena memang aku tidak mampu, pinta tempayan retak kepada tukang air.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, ” besok kita akan mengambil air lagi, aku ingin kamu memperhatikan sepanjang jalan yang kita lalui dari sisimu berada dan sisi si tempayan bagus, kata tukang air.
Besok harinya, ketika membawa air dari sumbernya, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Sementara itu di sisi sahabatnya tempayan yang bagus sepanjang jalan kelihatan gersang. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu?” Tempayan retak menjawab: ” iya aku lihat, tapi apa hubungannya dengan masalahku? tanya tempayan retak. Begini maksudku, dari dulu aku menyadari akan kondisimu yang kamu anggap sebagai kekuranganmu. Aku justru melihat itulah kelebihanmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menabur benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu menyirami benih-benih tersebut tanpa kamu sadari.Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa keberadaanmu dan retak yang kamu anggap sebagai kekuranganmu, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya dengan bunga-bunga seindah sekarang.” Kamu tidak memahami dan tidak menyadari bahwa apa yang kamu anggap sebagai kelemahanmu, justru adalah kelebihanmu. Kamu telah menciptakan potensi kehidupan baru yang sangat berguna, sedangkan tempayan bagus, dia memang produktif dalam melaksanakan tugasnya, tapi kamu lihat di sepanjang jalan di wilayah dia, tanahnya tetap gersang tanpa bunga2 yang indah.”
Tempayan retak terperangah dengan penjelasan tukang air, tempayan retak baru menyadari dan bersyukur ternyata apa yang dia anggap sebagai kekurangannya telah memberikan manfaat di sisi lain. Setelah itu tempayan retak selalu bergembira dan penuh syukur dalam mengerjakan tugasnya…. ….
Terkadang kita sering bersikap seperti tempayan yang bagus ketika melihat tempayan yang lain punya kekurangan, dilain waktu kita seringkali berperilaku seperti tempayan retak ; ”minder, silau, tertekan” karena melihat tempayan bagus. Padahal semua yang diciptakanNya tidak ada yang sia2. Semua pasti ada gunanya hanya saja mungkin kita belum memahami.
Suatu ketika ada seorang anak
perempuan yg bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja ia melihat ayahnya
sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut, dengan badannya yang mulai
membungkuk, disertai suara batuknya yang khas.
Anak perempuan itu bertanya
kepada ayahnya, "ayah, kenapa wajah ayah kian berkerut dan badan ayah kian hari
kiat membungkuk?? ?". Demikian pertanyaannya ketika ayahnya sedang santai di
beranda. Si
ayah menjawab " Karena aku lelaki " anak perempuan itu berkata sendirian " aku
tidak mengerti" dengan berkerut kening karena jawaban ayahnya membuat hatinya
bingung dan tidak mengerti. Ayah hanya tersenyum, dipeluk dan dibelainya rambut
anaknya sambil menepuk bahunya dan berkata "Anakku kamu memang belum mengerti
tentang lelaki ". Demikian bisik sang ayah yang membuat anaknya
bertambah bingung.
Karena perasaan ingin tahu dan
ia mendapatkan ibunya lalu bertanya kepada ibunya
"Ibu, mengapa wajah ayah kian berkerut dan badan ayah kian hari kian membungkuk?
dan sepertinya ayah mengalami demikian tanpa ada keluhan atau rasa sakit ???"
Ibunya menjawab "Anakku, jika memang seorang lelaki bertanggung jawab terhadap
keluarga itu memang akan demikian ". Hanya itu jawaban si ibu dan anak itupun
kemudian tumbuh dan menjadi dewasa, tapi ia tetap masih mencari-cari jawaban,
kenapa wajah ayahnya yang tampan berubah menjadi berkerut dan badannya
membungkuk??
Hingga suatu malam
ia bermimpi, dan di dalam mimpinya ia seolah-olah mendengar suara yg lembut dan
kata-katanya terdengar dengan jelas. Mimpi itu ternyata rangkaian jawaban
pertanyaannya selama ini yang selalu ia cari.
" Saat Kuciptakan
lelaki, AKU membuatnya sebagai pemimpin keluarga, serta sebagai tiang penyangga
dari bangunan keluarga tersebut, dan ia senantiasa akan berusaha menahan setiap
ujungnya agar keluarganya senantiasa merasa aman, teduh dan terlindungi.
"
"Kuciptakan bahunya yg kuat dan
berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya
harus cukup kuat untuk melindungi seluruh keluarganya. "
"Kuberi kemauan kepadanya agar
selalu berusaha mencari sesuap nasi yg berasal dari tetesan keringatnya sendiri
yang halal dan bersih, walaupun seringkali ia mendapat cercaan dari
anak-anaknya, "
"Kuberikan keperkasaan dan
mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya ia
merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya ia merelakan
badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan terhembus angin, ia
relakan tenaga perkasanya demi keluarganya dan yang selalu dia ingat adalah di
saat semua keluarganya menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil jerih
payahnya."
"Kuberikan kesabaran,ketekunan
dan dan kesungguhan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan
membimbing keluarganya tanpa ada keluh kesah. walaupun di setiap perjalanan
hidupnya keletihan dan kesakitan seringkali menerpanya."
"Kuberikan perasaan kuat dan
gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, di dalam
suasana dan situasi apapun, walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai
perasaannya dan hatinya."
"Padahal perasaannya itu
pulalah yang telah memberikan rasa aman di saat anak-anaknya tertidur lelap,
serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia
sedang menepuk-nepuk bahu anaknya agar selalu saling mengasihi dan menyayangi
sesama saudara."
"Kuberikan
kebijaksanaan dan kemampuan kepadanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran
kepada anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, bahkan seringkali
ditentang dan ditolak oleh anak-anaknya.
"
"Kuberikan kebijaksanaan dan
kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran bahwa istri yang
baik adalah istri yang setia terhadap suaminya, istri yang baik adalah istri
yang selalu menemani dan bersama-sama menjalani perjalanan hidup baik suka
maupun
duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan
yang diberikan kepada istri, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling
melengkapi dan saling mengasihi."
"Kuberikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa lelaki itu senantiasa
berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya
dapat hidup di dalam keluarga bahagia dan badannya yang bungkuk agar dapat
membuktikan, bahwa sebagai lelaki
yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha
mencurahkan sekuat tenaga dan segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya
demi kelanjutan hidup keluarganya. "
"Kuberikan kepada lelaki
tanggung jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar
dapat dipergunakan sebaik-baiknya, dan hanya inilah kelebihan yang hanya
dimiliki oleh lelaki. Walaupun sebenarnya amanah ini adalah di dunia dan di
akhirat."
Terkejut anak dari tidurnya dan
segera ia berlari, berlutut dan berdo’a hingga menjelang subuh. Setelah itu ia
hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa, ketika ayahnya berdiri si anak
menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya. "AKU MENDENGAR DAN MERASAKAN
BEBANMU, AYAH"
Bila ayah masih hidup jangan sia-siakan membuat hatinya
tersenyum dan gembira. Bila ayah telah tiada jangan putuskan tali silaturahim
yang telah dirintisnya, dan do’akan agar ALLAH Ta’aala selalu menjaganya dengan
sebaik-baiknya .
Seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan bertanya kepada
dokter,
” Bisa saya melihat bayi saya ?”
Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut
yang
membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya.
Dokter yang menungguinya segera
berbalik memandang ke arah luar jendela
rumah sakit.
Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga !
Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini
telah tumbuh menjadi
seorang anak itu bekerja dengan sempurna.
Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya
di pelukan sang ibu yang menangis.
Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi.
Anak lelaki itu terisak-isak berkata,
” Ma, seorang anak laki-laki besar mengejek saya.
Katanya, saya ini makhluk aneh.”
Anak lelaki itu tumbuh dewasa.
Ia cukup tampan dengan cacatnya.
Ia pun disukai teman-teman sekolahnya.
Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis.
Ia ingin sekali menjadi ketua kelas.
Ibunya mengingatkan,
” Bukankah nantinya kamu akan bergaul dengan remaja-remaja lain ?”
Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang
dokter yang bisa
mencangkokkan telinga untuknya.
Dokter itu berkata,
” Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya.
Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya.”
Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari
siapa yang mau mengorbankan
telinga dan mendonorkannya pada mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu.
Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya.
Sang ayah berkata,
” Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan
telinganya padamu.
Kami harus segera
mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi.
Namun, semua ini sangatlah rahasia.”
Operasi berjalan dengan sukses.
Seorang lelaki baru pun lahirlah.
Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan.
Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.
Ia menemui ayahnya,
” Pa, saya harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua
pada saya.
Orang itu telah berbuat sesuatu yang besar namun saya sama sekali belum
membalas kebaikannya.”
Ayahnya menjawab,
” Papa yakin kamu takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah
memberikan telinga itu.”
Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan,
” Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagi kamu untuk mengetahui semua
rahasia ini.”
Tahun berganti tahun.
Kedua orangtua itu tetap menyimpan rahasia.
Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu.
Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di
tepi peti jenazah ibunya
yang baru saja meninggal.
Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang
terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak
memiliki telinga.
Sang ayah berbisik,
” Mama kamu pernah berkata bahwa Mama senang sekali bisa memanjangkan
rambutnya.
Dan tak seorang pun menyadari bahwa Mama telah kehilangan sedikit
kecantikannya bukan ?”
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam batin.
Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun
pada apa yang tidak dapat terlihat.
Cinta yang sejati tidak terletak pada perbuatan kasih yang telah dikerjakan
dan diketahui, namun pada perbuatan kasih yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.
0 comments:
Post a Comment