THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Sunday, June 14, 2009

Ikrimah Bin Abu Jahal



Abu Ishaw As-Ayabi’i meriwayatkan, ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Makkah, maka Ikrimah berkata: Aku tidak akan tinggal di tempat ini!” Setelah berkata demikian, dia pun pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya membantunya. Akan tetapi isterinya berkata: “Hendak ke mana kamu wahai pemimpin pemuda Quraisy?” Apakah kamu akan pergi kesuatu tempat yang tidak kamu ketahui?” Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun memperhatikan perkataan isterinya.

Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka kepada Rasulullah isteri Ikrimah berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman kerana ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Justeru itu aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya.”

Rasulullah SAW menjawab, “Dia akan berada dalam keadaan aman!” Mendengar jawapan itu, maka isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai yang berada di Tihamah. Ketika Ikrimah menaiki kapal, maka orang yang mengemudikan kapal tersebut berkata kepadanya, “Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!”

Ikrimah bertanya, “Apakah yang harus aku ikhlaskan?”

“Ikhlaskanlah bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahawa Muhammad adalah utusan Allah!” Kata pengemudi kapal itu.

Ikrimah menjawab, “Tidak, jesteru aku melarikan diri adalah kerana ucapan itu.”

Selepas itu datanglah isterinya dan berkata, “Wahai Ikrimah putera bapa saudaraku, aku datang menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama, dari manusia yang paling mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu kepada Rasulullah SAW.”

Kepada isterinya Ikrimah bertanya, “Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?”

Isterinya menjawab, “Benar, aku telah berbicara dengan baginda dan baginda pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu.”

Begitu saja mendengar berita gembira dari isterinya itu, pada malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan persetubuhan dengan isterinya, akan tetapi isterinya menolaknya sambil berkata, “Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim.”

Kepada isterinya Ikrimah berkata, “Penolakan kamu itu adalah merupakan suatu masalah besar bagi diriku.”

Tidak lama selepas Ikrimah bertemu dengan isterinya itu, mereka pun pulang kembali, setelah mendengar berita bahawa Ikrimah sudah pulang, maka Rasulullah SAW segera ingin menemuinya. Kerana rasa kegembiraan yang tidak terkira, sehingga membuatkan Rasulullah SAW terlupa memakai serbannya.

Setelah bertemu dengan Ikrimah, baginda pun duduk. Ketika itu Ikrimah berserta dengan isterinya berada di hadapan Rasulullah SAW Ikrimah lalu berkata, “Sesungguhnya aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah utusan Allah.”

Mendengar ucapan Ikrimah itu, Rasulullah SAW sangat merasa gembira, selanjutnya Ikrimah kembali berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan.”

Rasulullah SAW menjawab, “Ucapkanlah bahawa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Ikrimah kembali bertanya, “Selepas itu apa lagi?” Rasulullah menjawab: “Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahawa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.” Ikrimah pun mengucapkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW selepas itu baginda bersabda, “Jika sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah aku berikan kepada orang lain, nescaya aku akan mengabulkannya.”

Ikrimah berkata, “Aku memohon kepadamu, ya Rasulullah, supaya engkau berkenan memohonkan ampunan untukku kepada Allah atas setiap permusuhan yang pernah aku lakukan terhadap dirimu, setiap perjalanan yang aku lalui untuk menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu dan setiap perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu.”

Maka Rasulullah SAW pun berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah dilakukannya untuk bermusuh denganku, setiap langkah perjalanan yang dilaluinya untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu dan ampunilah dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung berhadapan denganku mahupun tidak.”

Mendengar doa yang dipohon oleh Rasulullah SAW itu, alangkah senangnya hati Ikrimah, maka ketika itu juga ia berkata, “Ya Rasulullah! Aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya. Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela agama-Nya, aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang terakhir.”

Demikianlah keadaan Ikrimah, setelah ia memeluk Islam, ia sentiasa ikut dalam peperangan hingga akhirnya ia terbunuh sebagai syahid. Semoga Allah berkenan melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada Ikrimah.

Dalam riwayat yang lain pula diceritakan, bahawa ketika terjadinya Perang Yarmuk, Ikrimah juga ikut serta berperang sebagai pasukan perang yang berjalan kaki, pada waktu itu Khalid bin Walid mengatakan, “Jangan kamu lakukan hal itu, kerana bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!”

Ikrimah menjawab, “Kerana kamu wahai Khalid telah terlebih dahulu ikut berperang bersama Rasalullah SAW, maka biarlah hal ini aku lakukan!”

Ikrimah tetap meneruskan niatnya itu, hingga akhirnya ia gugur di medan perang. Pada waktu Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak dan anak panah. Abdullah bin Mas’ud pula berkata, “Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, maka masing-masing mereka berkata: “Berikan saja air itu kepada sahabat di sebelahku.” Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.”

Dalam riwayat yang lain pula ditambahkan, “Sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut, akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula, maka Ikrimah berkata: “Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku.” Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata: “Berikanlah air minum ini kepada siapa saja, barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku.” Begitulah keadaan mereka, sehingga air tersebut tidak seorangpun di antara mereka yang dapat meminumnya, sehingga mati syahid semuanya. Semoga Allah melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada mereka bertiga. Amin.”

Friday, June 12, 2009

Makna Senyuman

Ditengah kehidupan kota besar seperti kota Jakarta semua berlalu lalang dengan cepat. Menghentakkan jiwa penuh dengan kejutan. Kebahagiaan, penderitaan, tertawa dan menangis, Semua silih berganti datang dan pergi. Sejenak merenung, mendengarkan Hana yang senantiasa menghapal hadis pendek terasa amat mendalam makna hadis ini. 'Tabassumuka fi wajhi 'akhika shodaqoh.' Artinya: senyummu dihadapan saudaramu adalah shodaqoh (HR. Bukhari).

Dalam hadis ini Nabi mengajarkan bahwa senyuman kita kepada saudara kita adalah shodaqoh. Bahkan Nabi mengajarkan kita agar memberikan senyuman untuk semua orang termasuk orang yang pernah menyakiti hati kita. Membalas keburukan dengan keburukan adalah hal yang biasa namun membalas keburukan dengan keindahan tentunya sesuatu yang luar biasa sebab semua itu peristiwa menggoreskan makna dalam kehidupan kita.

Makna inilah yang mengokohkan kesadaran diri kita agar melihat semuanya dengan senyuman, mau bahagia tersenyum. Mau menderita juga tersenyum. Menangis tersenyum, tertawapun juga tersenyum. Ada seorang anak tidak mau sholat karena dirinya sedang bersedih. Sang Ibu menghampiri dan mengatakan, 'Taukah dek, bahwa Alloh SWT tidak hanya hadir ketika adek sedang bahagia namun Alloh juga hadir disaat adek sedang bersedih.' lanjut Sang Ibu, 'Ayo..sekarang adek curhat sama Alloh SWT dengan sholat.' Adek tersenyum mendengar penuturan ibunya, tak lama kemudian adek bergegas ambil air wudhu untuk sholat.

Begitulah bila semua disambut dengan senyuman, kesadaran membimbing kita untuk menjumpai taman keindahan. di Taman keindahan ini kita hidup dalam keseharian dengan penuh senyuman. Bagun tidur kita tersenyum, mulai beraktifitas kita tersenyum, bekerja keras untuk anak dan istri dengan senyuman. Pulang ke rumah bertemu keluarga dengan senyuman, menjelang tidur juga dengan senyuman, sebab senyuman membuat jiwa kita menjadi penuh kelembutan dan kedamaian. Itulah makna senyuman yang diajarkan Nabi SAW.

Ku Jaga Masjidku yang Indah

Beberapa hari yang lalu anak-anak Amalia membuat puisi yang bertema Masjidku. Salahsatu puisi yang bagus ditulis oleh Eggi yang judulnya 'Ku Jaga Masjidku yang indah.' Begitu Eggi membacakan puisinya saya menjelaskan menjaga masjid berarti juga meramaikan dengan kegiatan-kegiatanny a. Seperti melaksanakan ibadah di dalam Masjid. Untuk melaksanakan ibadah dan berkegiatan di masjid ada adab yang patut diperhatikan.

'Adab itu apa kak?' tanya Lusi.

'Adab itu aturan yang harus diperhatikan selama kita beribadah dan melakukan aktifitas didalam masjid.' jawab saya. Kemudian saya menjelaskan adab yang harus diperhatikan anak-anak Amalia selama berada di dalam masjid.

1. Mengenakan pakaian yang bersih dan pantas, seperti yang dimaksud al Qur`an:

Artinya: Wahai bani Adam, kenakanlah pakaianmu yang indah di setiap kali kamu memasuki masjid. (Q/7:31)

2. Tidak mengotori masjid, misalnya meludah dengan sembarangan. Menurut hadis Rasulullah: meludah di masjid adalah dosa, penebusnya ialah dengan menghilangkannya.

3. Menghindarkan diri dari bau tak sedap yang menggaggu orang lain, seperti bau jengkol, bau bawang, atau bau badan karena belum mandi. Rasulullah bersabda:

Barang siapa makan bawang putih, maka sekali-kali jangan mendekati masjid kami. (muttafaq `alaih).

4. Tidak membicarakan urusan bisnis, apalagi transaksi di dalam masjid,

5. Mengerjakan salat tahiyatul masjid, dua rakaat. Rasulullah bersabda:

Apabila seseorang diantara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk dulu sebelum salat dua rakaat.

6. Tidak meninggalkan masjid jika azan sudah dikumandangkan. Seperti yang dikatakan oleh hadis riwayat Abu Hurairah.

7. Memperpanjang jarak perjalanan ke masjid agar jumlah langkahnya lebih banyak, misalnya dengan mengambil rute yang berbeda-beda. Rasulullah bersabda:

Barang siapa bersuci di rumahnya, lalu pergi ke salah satu masjid untuk menunaikan kewajiban salat fardlu, maka semua langkahnya yang satu menggugurkan dosanya dan yang lain mengangkat derajatnya. (HR Muslim)

8. Sepanjang perjalanan menuju ke masjid hendaknya membaca doa, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah :

Allahummaj `al fi qalbi nu ran, wafi lisa ni nu ran, waj `al fi sam 1I nu ran, waj `al fi basari nu ran, waj `al min khalfi nu ran, wa min ama mi nu ran, waj `al min fauqi nu ran, wamin tahti nu ran, Allahumma a`tini nu ran.

Artinya: Ya Allah jadikanlah cahaya di hatiku dan di lidahku, jadikanlah pula cahaya di pendengaranku dan penglihatanku, ya Allah, jadikanlah cahaya dari belakangku dan dari hadapanku, jadikanlah pula cahaya dari atasku dan dari bawahku, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya Mu. (muttafaq `alaih)

9. Memulai dengan kaki kanan ketika memasuki masjid, sambil membaca doa:

Bismillahi was sala tu was sala mu `ala rasulillah. Allahumma iftah li abwa ba rahmatika

Artinya: Dengan nama Allah, salawat dan salam kepada Rasulullah Nya, ya Allah bukakanlah kepadaku semua pintu rahmat Mu. (H.R. Muslim)

10. Saat ke luar dari masjid, mendahulukan kaki kiri, dan membaca doa:

Bismillahi was sala tu was sala mu `ala rasulillahi Allahumma inni as`aluka min fadhlik

Artinya: Dengan nama Allah, salawat dan salam kepada Rasulullah Nya, Ya Allah sesungguhnya aku mohon anugerah Mu. (H.R. Muslim).

Diakhir penjelasan anak-anak Amalia menjadi memahami bahwa menjaga masjid berarti juga berperilaku santun ketika di dalam masjid dan tidak sembarangan selama melakukan ibadah dan beraktifitas didalam Masjid. 'Jadi itulah makna dari puisi Eggi yang berjudul 'Ku Jaga Masjidku yang indah.' kata saya pada anak-anak Amalia.